Penghujan saat ini berada
dipuncak musim. Meski sudah terlampau 2 bulan, belum ada tanda akan berakhir.
Hujan masih saja turun siang dan malam sedetik berhenti, sedetik kemudian sudah
turun lagi. Ibarat enggan hujan datang dan terang silih-berganti, tapi tak
jarang titik-titik gerimis menjadi badai.
Seperti senja kala itu.
Awal Januari, 2014
Angin Januari, meniup awan kelabu
barat daya menuju tenggara. Singgah sesekali dilangit negeri ini. Gayung
bersambut mendung menjatuhkan titik air satu-persatu, hanya sekejap kemudian
bertambah gila jumlahnya. Gerimis berganti badai, suara gemuruh langit bak genderang raksaksa bimasakti namun tak nampak wujudnya, mungkin tertutup
gumpalan awan dengan kilatnya yang sambar-menyambar. Sedangkan si angin ikut menggila,
mengaduk-aduk udara menerpa apapun dijalur hembusnya, membawa apa yang bisa
dia bawa: air, debu, tanah, rumput dan dedaunan atau sekedar papan reklame yang menancap
dibeton.
Jika kita lompati jalan setapak kala itu sudah cukup membuat lepek sampai ke- celana
dalam.
Aku berdiri ditengah tanah lapang. Semenjak datang gerimis hingga badai berlalu. Tidak sekalipun aku beranjak.
Wajah-ku, aku tadahkan kelangit. Air hujanpun mengalir ibarat peluh dari kulit kepala, berturut-turut turun lewati garis lekuk mukaku. kemudian menetes jatuh di ujung dagu.
Orang berkata mataku begitu bening, tajam dan penuh selidik namun cerdas dan menawan hati. Guratan dikedua kelopaknya semetris satu setengah centi dibawah alis. Alis yang tidak tebal tidak tipis.
Namun tatapanku sayu tak bersahaja, pandang-ku jauh menyibak awan kelabu, menembus lapis-lapis langit melewati bima sakti. Terus menelaah entah sampai mana? hendak aku raih sesuatu entah itu apa? suatu yang tak terjangkau benakku.
Wajah-ku, aku tadahkan kelangit. Air hujanpun mengalir ibarat peluh dari kulit kepala, berturut-turut turun lewati garis lekuk mukaku. kemudian menetes jatuh di ujung dagu.
Orang berkata mataku begitu bening, tajam dan penuh selidik namun cerdas dan menawan hati. Guratan dikedua kelopaknya semetris satu setengah centi dibawah alis. Alis yang tidak tebal tidak tipis.
Namun tatapanku sayu tak bersahaja, pandang-ku jauh menyibak awan kelabu, menembus lapis-lapis langit melewati bima sakti. Terus menelaah entah sampai mana? hendak aku raih sesuatu entah itu apa? suatu yang tak terjangkau benakku.
Air muka yang tak lekang kala itu,
memberi isarat gundah bagi siapa yang melihat. Seraya aku pendam
gejolak batin, ku hujam diri-sendiri dengan banyak tanda tanya. Membawaku kian hanyut dalam diam. Sedangkan otakku menerka-nerka mengapa demikian?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar