Tubuhnya sudah renta dimakan usia. Keriput kulit dikulit kaki, dikulit bahu, dikulit pundak dan dikulit-kulit lainnya. Gambaran perjuangan masa silam terpahat disetiap kerut mukanya. Tatapannya telah sayu, tapi semangat masa lalunya belum hilang. Api dimatanya masih menyala, meski tidak segebu dulu. Isarat tubuhnya berkata "aku belum jengah, hidupku masih bisa bermakna."
Disaku kemeja safari hijau yang biasa dikenakannya disisipkan lembar-lembar enau (daun kolang-kaling atau aren) kering, sebungkus kecil remah tembakau dan sekotak korek kayu. Harta pusaka, mungkin.
Daun enau kering dilintingnya seukuran
tusuk gigi di isi tembakau disulut api korek sundut, dihisap seleput
asap mengepul sedikit, di hembus-hembuskan dan hilang diudara. Lalu
diulangi lagi hal serupa berkali-kali.
Sedikit ada penasaran, aku coba menanyakan.
"Lagi ngapain, itu apa?"
Dia menoleh sedikit kemudian mencabut itu dari mulutnya seraya memandangi benda ditangannya dia memberi menjawaban.
"Kawung, lu mau tong?"
Hal
lumrah seorang yang lebih muda dipanggil entong (untuk laki-laki) atau
eneng (untuk perempuan). Itu sedikit perumpamaan orang-orang dulu dan agak lucu kalau didengar saat ini. Tapi aku tidak keberatan, apalagi jarak usia kami memang terpaut setengah
abad lebih.
"Sejenis rokok?"
"Ini kretek bukan rokok... kualitas tinggi!" Tegasnya.
"Cara pakainya?" tanyaku.
"Ya... disundut lalu dihisap"
Dalam hati aku bertanya, "apa sih bedanya?"