Sabtu, 25 Januari 2014

Ada Masa

Tubuhnya sudah renta dimakan usia. Keriput kulit dikulit kaki, dikulit bahu, dikulit pundak dan dikulit-kulit lainnya. Gambaran perjuangan masa silam terpahat disetiap kerut mukanya. Tatapannya telah sayu, tapi semangat masa lalunya belum hilang. Api dimatanya masih menyala, meski tidak segebu dulu. Isarat tubuhnya berkata "aku belum jengah, hidupku masih bisa bermakna."
Disaku kemeja safari hijau yang biasa dikenakannya disisipkan lembar-lembar enau (daun kolang-kaling atau aren) kering, sebungkus kecil remah tembakau dan sekotak korek kayu. Harta pusaka, mungkin.

Daun enau kering dilintingnya seukuran tusuk gigi di isi tembakau disulut api korek sundut, dihisap seleput asap mengepul sedikit, di hembus-hembuskan dan hilang diudara. Lalu diulangi lagi hal serupa berkali-kali.
 
Sedikit ada penasaran, aku coba menanyakan.
"Lagi ngapain, itu apa?"
Dia menoleh sedikit kemudian mencabut itu dari mulutnya seraya memandangi benda ditangannya dia memberi menjawaban.
"Kawung, lu mau tong?"
Hal lumrah seorang yang lebih muda dipanggil entong (untuk laki-laki) atau eneng (untuk perempuan). Itu sedikit perumpamaan orang-orang dulu dan agak lucu kalau didengar saat ini. Tapi aku tidak keberatan,  apalagi jarak usia kami memang terpaut setengah abad lebih.
"Sejenis rokok?"
"Ini kretek bukan rokok... kualitas tinggi!" Tegasnya.
"Cara pakainya?" tanyaku.
"Ya... disundut lalu dihisap" 
Dalam hati aku bertanya, "apa sih bedanya?"

Improvisasi



Penghujan saat ini berada dipuncak musim. Meski sudah terlampau 2 bulan, belum ada tanda akan berakhir. Hujan masih saja turun siang dan malam sedetik berhenti, sedetik kemudian sudah turun lagi. Ibarat enggan hujan datang dan terang silih-berganti, tapi tak jarang titik-titik gerimis menjadi badai. 

Seperti senja kala itu. 

Awal Januari, 2014
Angin Januari, meniup awan kelabu barat daya menuju tenggara. Singgah sesekali dilangit negeri ini. Gayung bersambut mendung menjatuhkan titik air satu-persatu, hanya sekejap kemudian bertambah gila jumlahnya. Gerimis berganti badai, suara gemuruh langit bak genderang raksaksa bimasakti namun tak nampak wujudnya, mungkin tertutup gumpalan awan dengan kilatnya yang sambar-menyambar. Sedangkan si angin ikut menggila, mengaduk-aduk udara menerpa apapun dijalur hembusnya, membawa apa yang bisa dia bawa: air, debu, tanah, rumput dan dedaunan atau sekedar papan reklame yang menancap dibeton.

Jika kita lompati jalan setapak kala itu sudah cukup membuat lepek sampai ke- celana dalam.

Aku berdiri ditengah tanah lapang. Semenjak datang gerimis hingga badai berlalu. Tidak sekalipun aku beranjak.

Wajah-ku, aku tadahkan kelangit. Air hujanpun mengalir ibarat peluh dari kulit kepala, berturut-turut turun lewati garis lekuk mukaku. kemudian menetes jatuh di ujung dagu.

Orang berkata mataku begitu bening, tajam dan penuh selidik namun cerdas dan menawan hati. Guratan dikedua kelopaknya semetris satu setengah centi dibawah alis. Alis yang tidak tebal tidak tipis.

Namun tatapanku sayu tak bersahaja, pandang-ku jauh menyibak awan kelabu, menembus lapis-lapis langit melewati bima sakti. Terus menelaah entah sampai mana? hendak aku raih sesuatu entah itu apa? suatu yang tak terjangkau benakku.

Air muka yang tak lekang kala itu, memberi isarat gundah bagi siapa yang melihat. Seraya aku pendam gejolak batin, ku hujam diri-sendiri dengan banyak tanda tanya. Membawaku kian hanyut dalam diam. Sedangkan otakku menerka-nerka mengapa demikian?

Kabut & Rembulan

Kau tetap pelita dalam gelap dunia. Saat dipandang sebelah mata, tetap kau jaga nyalamu. Biar remang, tiada kenal padam. Kau masih seperti dulu, kukuhnya engkau pertahankan visimu. Walau tak banyak orang mengerti, bahkan tak jarang yang salah menilaimu.
Bagiku engkau adalah rembulan. Cahayamu timbul tenggelam, namun entah mengapa membawa kerinduan. Andai saja kita sepaham, mahabarata pasti dapat tambahan cerita.